Ternyata sudah sekitar empat minggu gak sempet ngisi blog.. fiuh. Tetapi, kali ini saya dapat informasi yg lumayan berbobot, tentang
Vodafone Live. Saya melihat bahwa untuk
mobile content, telah berkembang dua standar: Docomo iMode dan Vodafone Live. Standar iMode telah digunakan di luar Jepang oleh operator lain, sama seperti Vodafone Live, telah digunakan di luar negara asalnya, Inggris. Vodafone Live, berawal dari pembelian J-Phone, salah satu operator di Jepang yang membuat mobile content, yang diberi nama J-Sky. Vodafone kemudian membeli perusahaan ini, memperbaiki sistim J-Sky dan memberi nama baru Vodafone Live dan diluncurkan pada tahun 2002. Vodafone mengklaim sebagai komunitas
wireless terbesar di dunia dengan jumlah pelanggan hingga sekitar 200 juta orang. Cara yang dilakukan Vodafone cukup konvensional: membeli sebagian atau seluruh saham sebuah operator (perhitungan jumlah pelanggan di atas sudah menggunakan proporsi kepemilikan saham Vodafone dalam tiap perusahaan yang masuk porto folionya).
Perbedaan utama antara iMode dan Vodafone Live adalah pada
browser yang digunakan. iMode menggunakan
browser khusus dan menggunakan standar
programming yang disebut
compact HTML (cHTML) sedangkan Vodafone Live menggunakan
browser standar WAP 2.0 dan
programming xHTML, yang berbasis XML.
Kebetulan, salah satu rekan saya (a French
guy) adalah salah satu orang yang ikut mengembangkan Vodafone Live dan dia cerita tentang bagaimana cara kerja Vodafone Live. Tentu saja, karena beberapa informasi yang dia sampaikan masuk kategori
corporate secrecy, makanya di sini tidak akan disebutkan nama merek dari sistim yang digunakan. Yang saya ingin paparkan adalah ide dari Vodafone Live. Untuk iMode, saya tidak punya informasi apa pun.

Tujuan dari Vodafone Live adalah menyederhanakan tampilan. Untuk itu, Vodafone Live menggunakan tampilan grafikal, sebagai lawan dari teks yang biasanya ada di dalam tampilan WAP. Dengan satu klik dari
handset, maka User Agent Profile (UAProf) yang ada di dalam handset akan mengirimkan informasi tentang kemampuan
handset, misal berapa pixel ukuran layar.

Setelah mengetahui ukuran pixel ini, maka ukuran
image yang akan dikirim ke handset disesuaikan oleh
Rendering Engine, sehingga nanti tidak terlalu besar atau pun terlalu kecil. Demikian juga dengan ukuran
font-nya. Dalam Vodafone Live ada banyak komponen, sehingga yang ada di dalam diagram adalah
over simplify.
3PI adalah Third Party Interface, yaitu hubungan dan interoperabilitas dengan Content Provider. Vodafone menentukan bahwa CP yang content nya hendak digunakan dalam Vodafone Live harus menggunakan Voda Markup Languange (VodaML). Kemudian content akan dibagi menjadi dua:
text dan
image. Text akan masuk ke
Portal menggunakan PortalML sedangkan
image akan langsung ke Rendering Engine untuk disesuaikan dengan profil dari
handset.
Di dalam Rendering Engine, semua komponen (
text dan
image) akan disatukan kembali menjadi multipart, yaitu gabungan (atau komposit) dari berbagai format (biasanya text,
image dan
sound) yang siap untuk dikirimkan dalam format
wireless. Saya juga engga tau apakah multipart ini dikirimkan dalam bentuk teks atau biner, si bule engga cerita.. hehe. Intinya, seperti inilah cara kerja Vodafone Live.
Bagian lain adalah
Routing Function, yang bertugas untuk melakukan fungsi ruting (ehem). Untuk kasus SMS
content, ini seperti komunikasi dari handset ke
shortcode (ESME) tertentu. Misal
shortcode 6288, digunakan secara eksklusif oleh sebuah CP, maka setiap seorang pelanggan mengirim SMS ke 6288 maka akan di ruting ke CP yang dimaksud. Namun, bila
shortcode ini digunakan secara bersamaan oleh beberapa CP, maka
keyword di dalamnya menjadi kunci untuk ruting. Intinya seperti itu lah. Jadi, fungsi ini adalah untuk mengirimkan
content dari CP ke pelanggan. Selain itu, ada fungsi tambahan yaitu untuk memicu
charging dan
subscription. Misal ada pelanggan yang masa langganan nya sudah kadaluarsa, maka saat orang tersebut berusaha meminta
content (atau sebaliknya, CP yang melakukan
content push), maka akan ditolak oleh si Routing Function.
Karena rumitnya Vodafone Live, sampai muncul sebuah perusahaan,
Tribaltext untuk membantu CP supaya bisa ikut masuk ke dalam jaringan Vodafone Live.
Saya percaya bahwa di masa depan, content bukan lagi menjadi
value added service, tetapi menjadi
main service. Bayangkan bila ada operator Wimax (yang lelang lisensinya ditunda oleh regulator) dengan lebar pita 15 Mhz… akan sangat sayang bila hanya dipakai untuk
voice (dan bersaing murah-murahan). Dengan OFDM dalam Wimax, lebar pita ini sama dengan 3 FA (Frequency Allocation) dan sangat cukup untuk
content delivery. Sebagai perbandingan, tiga operator 3G di Jepang, masing-masing mendapat lebar pita sebesar 20 Mhz. Dan terbukti cukup untuk
wireless content delivery.
Saat CommunicAsia yang lalu, saya sempat berbicara dengan salah satu
stand guide di
booth NTT Docomo, dia menginformasikan bahwa saat ini adalah lebih dari 4.000 Content Provider di dalam layanan Docomo. Berhubung waktu itu tidak ada Vodafone, jadi saya tidak tahu berapa besar jumlah CP dalam Vodafone Live.. tapi, melihat situs Vodafone, pasti banyak. Ini adalah (menurut pendapat saya) bentuk riil dari
The Long Tail dalam
mobile service. Juga, saya berpendapat bahwa perusahaan seperti Docomo dan Vodafone bukan lagi semata operator, mereka sudah menjadi
media company.
Labels: The Long Tail, Vodafone