equest72 Blog

Tuesday, September 25, 2007

Subprime Mortgage dan Indeks BEJ

Efek dari Subprime Mortgage memang luar biasa.. tetapi hal ini menambah keyakinan saya untuk tetap berinvestasi di dalam pasar saham. Dari pergerakan IHSG, terlihat bahwa pada Bulan Agustus 2007 (saat kasus Subprime muncul) indeks meluncur dengan cepat, tetapi kemudian rebounce dengan sangat cepat.

Hal ini, lagi-lagi, sejalan dengan temuan Benjamin Graham, Jeremy Siegel dan James O. Shaughnessy, bahwa dalam jangka panjang, pasar saham menunjukkan kemampuan resilency.

Kasus Subprime berasal dari masalah kredit perumahan.. Kata subprime berasal dari kata sub dan prime (apa lagi?), yang artinya di bawah prima. Subprime adalah kredit perumahan yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki rating kredit rendah. Seberapa rendah? Di bawah score 620.
Nah, gilanya adalah bahwa kemudian kredit ini dijual ke pasar saham melalui model asset-backed, kemudian mendapat rating yang bagus, sehingga investor bersedia membelinya. Sebagai akibatnya bahwa pada saat kredit perumahan tersebut benar-benar bermasalah, maka runtuhlah semuanya.
Pada waktu kasus ini terjadi, banyak orang panik dan menjual sahamnya... sayangnya, bila hal itu dilakukan, maka mungkin terjadi loss, karena dalam waktu beberapa minggu saja, harga saham sudah membaik kembali. Oleh karena itu, sangat penting untuk berinvestasi dalam jangka panjang.
Untuk detil mengenai kasus Subprime bisa dilihat di:

Labels:

Tuesday, July 17, 2007

Pentingnya Valuasi (bag. 2)

Kita lanjut lagi yang kemarin.

Saya melakukan pengecekan atas saham Google, Inc. Pada saat ini harga saham GOOG dilego pada kisaran $552 per lembarnya. Berdasarkan Annual Report Google didapat EPS sebesar $9,94 per lembarnya, maka PER-nya: 55,55. Saya melakukan cross checking dengan Google Finance), dari sana (menurut perhitungan Google Finance), PER saham berkode GOOG adalah 49,49.

Ada perbedaan dikit, tetapi kita lihat bahwa PER-nya sekitaran 50. Artinya adalah begini:

Bila perusahaan ini selama tahun-tahun berikutnya memiliki laba bersih (earning) yang sama setiap tahunnya dan membagikan seluruh earning yang didapatnya, maka seorang pemegang sahamnya baru akan mencapai break even point dalam waktu 50 tahun

As simple as that.

Sekarang, perusahaan AGIS (kode: TMPI) di BEJ dengan PER-nya yang mencapai 242, bila skenario di atas berlaku, maka pemilik saham TMPI baru akan mendapatkan full return atas saham yang dibelinya dalam jangka waktu 242 tahun... cappe deh. Hidup, mati, hidup lagi, mati lagi, baru BEP...

Kembali ke saham BTEL, maka analis yang mengatakan bahwa harga saham BTEL masih murah hanya melihat dari harganya (yaitu Rp. 425 per lembar) dan tidak melihat valuasi fundamentalnya. Jangan salah sangka ya, tidak ada niatan untuk menjelekkan perusahaan mana pun, tetapi yang ingin diterangkan di sini adalah bahwa murah / mahalnya sebuah saham terletak pada valuasinya, bukan pada nilai rupiahnya.

Sebagai contoh, harga saham International Nickel (INCO) dilego pada harga Rp. 53.700, dengan PER 6,42. I would rather buy this stock, rather than GOOG. Saya cinta Google, saya menggunakan produknya: Gmail, Gtalk, Blogger dan mungkin suatu hari Orkut. Tetapi pada PER 50-an, saya lebih memilih untuk membeli INCO.

Pelajaran dari saham MSFT menunjukkan bahwa Price-to-Earning Ratio (PER) pada nilai di atas 40 menunjukkan bahwa saham tersebut telah mencapai over value (saat ini harga saham MSFT dijual dengan PER sekitar 20-an).

Pelajaran dari Warren Buffet (buku Warren Buffett Wealth, halaman 130):

It's better to buy a wonderful business at a fair price than to buy a fair business at a wonderful price

Sebagai contoh, pada tahun 1989 Warren membeli saham Coca-Cola dengan data-data sbb:
  1. Harga saham = $6,50.
  2. Price-to-Book Value (PBV) Ratio = 5,5.
  3. Price-to-Earning Ratio (PER) = 15,5.

Warren mencapai full return atas saham Coca-Cola dalam waktu 9 tahun dan nilai buku (Book Value) nya naik tiga kali lipat dalam jangka waktu itu.

Dalam kasus di Bursa Efek Jakarta, saya melihat satu saham yang menarik (saya tidak akan sebutkan nama perusahaannya), hanya saja menurut perhitungan saya, harga sahamnya masih terlalu tinggi. Data-data perusahaan tersebut sbb:
  • PER: 27,72 (penutupan Desember 2006).
  • Price-to-Sales Ratio (PSR): 7,91 (Desember 2006).
  • Nilai pasar: Rp. 52,5 Triliun (Desember 2006).
  • PBV: sekitar 7 (Juni 2007).

Namun perusahan ini memiliki ciri-ciri yang baik seperti Dividend Payout: 50%, pemimpin dalam industrinya, memiliki visi yang bagus, kontrak penjualan long-term. Hanya saja, ya itu... harganya masih kurang pas. Saya membaca analisa dari MacQuairie Securities yang dimuat di Bisnis Indonesia dan setuju dengan analisa itu: bila sahamnya di bawah Rp. 9.000 per lembarnya, then I will start buying.

Menariknya, sejak saya observasi dari bulan April 2007, harga saham perusahaan ini terus turun dan mulai mendekati nilai Rp. 9.000 per lembarnya (nilai pasarnya sudah turun ke sekitar 40 T).
:-)

Pelajaran yang dipetik (saya ambil dari buku The Future of Investors, Jeremy J. Siegel):
  1. Valuations are Critical.
  2. Never Fall in Love with Your Stocks.
  3. Avoid Triple Digit PER.

Labels:

Sunday, July 15, 2007

Pentingnya Valuasi (bag. 1)

.. Saya ingin memberikan contoh mengenai pentingnya valuasi (murah atau mahalnya) sebuah saham.

Kebetulan, saya membaca majalan Fortune, 15 Maret 1999, tentang kedermawanan Bill Gates, pada tahun itu, berdasarkan nilai saham, kekayaan Bill Gates adalah $76.5 Miliar. Harga saham Microsoft (MSFT) pada tahun 1999 adalah $58,375 dengan Earning per Share (EPS) senilai $ 1,420; dengan demikian Price-to-Earning Ratio (PER)-nya adalah: 58,375 / 1,420 = 41.105.

Pada tahun 1999, nilai pasar Microsoft berdasarkan saham mencapai $400 Miliar dengan PER 41.

Fast forward ke tahun 2006.

Berdasarkan Google Finance pada tanggal 13 Juli 2007:
Harga saham MSFT: 29,81.
PER: 21,50.
Nilai pasar: $285,28 Miliar.

Turun hampir 50%... Ini menjelaskan bahwa valuasi harga saham adalah sangat penting. Bila kita kita membeli saham dalam valuasi yang tinggi, walau pun perusahaan tersebut baik, it is likely to loose in long-run.

Dalam Tabloid Kontan, edisi Minggu II Juni 2007, pada halaman 14 tertulis sbb:

Saham Bakrie Telecom (BTEL) termasuk saham lapis bawah yang banyak direkomendasikan analis. Salah satunya Ichsan. "Harganya masih murah, dan secara fundamental cukup bagus," kata dia.


Ini mengejutkan saya, karena harga BTEL pada tanggal 26 Juni 2007 adalah Rp. 425, dengan EPS 3,94, (berdasarkan Laporan Tahunan 2006 yang dirilis Bakrie Telecom) maka PER-nya: 425 / 3,94 = 107.868.
(sebagai informasi, BTEL masuk dalam daftar LQ 45 periode Februari-Juli 2007)

Inget nasihat Jeremy J. Siegel? Avoid triple digit PER. Pada saat PER America Online mencapai 100-an, Prof. Siegel memperingatkan bahwa saham ini sudah over value, namun pendapatnya dicerca banyak orang. Pada tanggal 19 April 1999, harga saham AOL turun dari $139,75 menjadi $115,88 (jatuh $22 Miliar dalam nilai pasar). Pada Februari 2003, seorang analis (bukan Prof. Siegel) melakukan valuasi atas AOL dan menemukan bahwa nilai pasar yang wajar untuk AOL adalah $5,78 Miliar atau drop 97% dari nilai pasar pada tahun 1999.
:-(

Untuk sementara waktu ini, saya akan terus memantau harga-harga saham di BEJ, terutama yang PER nya triple digit (di atas 100).

Labels:

Wednesday, July 04, 2007

Overprice saham-saham BEJ

Harian Bisnis Indonesia, Rabu, 27 Juni 2007 di halaman pertama berjudul:
Jangan Cemaskan over price di bursa

Dari tanggal 28 Desember 2006 s.d. 22 Juni 2007, di bawah ini adalah daftar saham yang memiliki gain tinggi (bahkan super tinggi):

1. Anugrah Tambak Perkasindo, Tbk (ATPK): 2.988,24%.
2. Agis, Tbk (TMPI): 1.469,77%.
3. FKS Multi Agro, Tbk (FISH): 966,67%.
4. Sona Topas Tourism, Tbk (SONA): 948,28%.
5. Hortus Danavest, Tbk (HADE): 746,15%.
6. Integrasi Teknologi, Tbk (ITTG): 700%.
7. Karka Yasa Profilia, Tbk (KARK): 600%.
8. Delta Dunia Petroindo, Tbk (DOID): 492,59%.
9. Panorama Sentrawisata, Tbk (PANR): 435%.
10. Indo Exchange, Tbk (INDX): 400%.

Edan, dalam waktu singkat saja, bisa meraup lebih dari 400% keuntungan dalam bentuk capital gain. Tapi, saya selalu teringat Jeremy Siegel yang berkata: valuation matters. Jadi dari koran yang sama, saya melihat Price to Earning Ratio pada tanggal 26 Juni 2007 dari para emiten ini, hasilnya sbb:

1. ATPK, PER = -46,83.
2. TMPI, PER = 537,18.
3. FISH, PER = 48,09.
4. SONA, PER = 33,74.
5. HADE, PER = 9,41.
6. ITTG, PER = 55,63.
7. KARK, PER = -672,04.
8. DOID, PER = 1.071,43.
9. PANR, PER = 117,01.
10. INDX, PER = -2,73.

Dalam bukunya, The Future of Investors, halaman 78, Jeremy Siegel mengatakan: Never buy a triple digit PER. Hehehe... Jadi, dari aturan main ini, sudah ada beberapa emiten yang rontok. Yang berikutnya lagi dari Benjamin Graham (The Intelligent Investor), mengatakan bahwa untuk membeli sebuah saham, lihat terlebih dahulu apakah perusahaan tersebut profitable dalam waktu 10 tahun terakhir. PER negatif menandakan bahwa perusahaan tersebut tidak membuat keuntungan pada tahun 2006... Sehingga investor (atau penjudi) ini sudah bisa dipastikan mengharapkan future earning (sesuatu yang tidak bisa diterima oleh Warren Buffett). Juga, Graham mengatakan: apakah perusahaan tersebut membagikan dividen, terutama pada saat terjadi krisis ekonomi? (Benjamin Graham mengatakan ini karena dia pernah mengalami krisis ekonomi 1929 di Amerika yang hampir menghancurkan kondisi finansialnya).

Nah, dengan semua kriteria di atas ini... tampaknya tidak justified bagi saya untuk membeli saham-saham tersebut. Namun, sebagai bahan pembelajaran, saya akan terus memonitor pergerakan nilai saham dari para emiten ini.

Yang menambah heran saya adalah komentar analis seperti tertulis:

Analis Bhakti Securities Budi Ruseno menilai pergerakan saham lapis kedua ini sangat wajar. Menurut dia, ada tiga prinsip dasar yang menyebabkan pergerakan saham di bursa, yaitu kinerga perusahaan yang baik, faktor teknis yang mempengaruhi harga saham dan adanya sentimen pasar yang berkaitan dengan kondisi makro eknomi nasional.

Kita lihat saja bagaimana perkembangannya, dan saya berencana untuk menggunakan materi ini sebagai bahan untuk pembelajaran.

Labels:

Sunday, April 15, 2007

Jakarta Composite Index, Q1

Menarik. Jakarta Composite Index (JCI) atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merupakan barometer valuasi saham di Indonesia menunjukkan gejala bahwa investor Indonesia sudah mulai belajar bahwa valuasi memang penting.
Pada Kuartal Pertama tahun 2006, IHSG seakan-akan naik terus tanpa henti (gambar di bawah).


Sedangkan pada Kuartal Kedua tahun 2007 ini, nilai saham di pasar saham sudah mulai mendekati atau mencapai nilai wajarnya (face value), sehingga hampir tidak ada pergerakan.


Lha, terus beli saham apa ya yang menguntungkan? Saya melihat potensi dari beberapa emiten, tapi karena ini adalah pendapat pribadi, maka tidak akan saya ungkapkan di sini... (japri aja, kali yak).
Dalam jangka panjang, saya tetap percaya bahwa investasi di saham akan menguntungkan.
Blog yang berhubungan:

Labels:

Friday, January 19, 2007

Indeks dan Efek Januari

Senang bisa menulis kembali, setelah tenggelam dalam pekerjaan yang menghabiskan energi...

Well, tiga minggu pertama bulan Januari pada tahun 2006 dan 2007 ini memiliki kondisi yang menarik untuk dikaji.

Dua tahun terakhir ini (2006 dan 2007) bisa dikatakan bawah para investor lokal di Bursa Efek Jakarta mendapat cukup banyak pelajaran. Pada tiap bulan Januari, biasanya ada Efek Januari, yaitu situasi dimana para fund manager dan pemilik saham menjual share nya, sehingga menimbulkan penurunan harga.

Sebenarnya, saya jg agak bingung... kalau saham perusahaan yang dibeli si fund manager dan investor tersebut bagus, mengapa dijual? Katanya karena pada Bulan Desember terjadi window dressing, yaitu ada upaya dari emiten untuk memperbaiki harga sahamnya. Tapi ini juga sebenarnya aneh. Kalau memang perusahaan tersebut memiliki potensi yang bagus, ngapain juga melakukan cosmetic make over?

Tapi oke lah... kita liat pada Januari 2007, sempat terjadi penurunan indeks komposit (IHSG) yang signifikan yang disebabkan oleh
pertama, sentimen negatif yang terjadi di Thailand, dimana diberlakukan pembatasan kepemilikan asing dan kedua, sentimen negatif karena turunnya nilai saham PGN secara drastis (lebih dari 20% dalam satu hari), yang diduga terjadi salah informasi yang diberikan oleh manajemen PGN, yang berkenaan dengan proyek pipa gas SSWJ. Kemudian, sentimen negatif ini menyeret saham lainnya. Pada hari berikutnya, manajemen PGN sudah melakukan klarifikasi mengenai proyek SSWJ ini, bahka menginformasikan bahwa walaupun terjadi kelambatan dalam pekerjaan pipanisasi SSW, pendapatan PGN diprediksi naik 64% dari 132% proyeksi sebelumnya (not bad, juga sebenarnya). Berbeda dengan 2 minggu pertama Januari 2007, pada tahun 2006, tampaknya tidak terjadi Efek Januari, indeks terus saja meningkat. Tampaknya, para investor lokal mulai belajar bahwa perusahaan dengan valuasi di bawah nilai wajarnya (fair value) selalu layak untuk dibeli.

Pada intinya, dari berbagai literatur yg saya pelajari sentimen pasar sering tidak sejalan dengan nilai wajar sebuah perusahaan. Pada saat harga saham sebuah perusahaan di bawah fair value nya, sering sekali investor menjadi ragu untuk membeli saham tersebut, takut harganya akan semakin turun. Tetapi pada saat harga saham nya sudah naik (bahkan melebihi) fair value, si investor tetap tidak membelinya (sambil menyesal) karena tahu bahwa nilai saham perusahaan tersebut sudah ketinggian.

Tampaknya, salah satu tujuan dari penurunan nilai saham memiliki fungsi penyaringan juga, dimana investor long run saja yang akan bertahan, sedangkan investor short run akan segera ikutan menjual portofilionya. Dan kembali ke temuan Prof. Jeremy Siegel dalam bukunya Stocks for the Long Run dan The Future of Investors bahwa tidak ada investasi di dalam saham, dalam jangka waktu 20 tahun, yang gagal menciptakan uang.

Untuk selanjutnya, kita tunggu sampai akhir Januari ini...
:-)

Blog yang berhubungan:
Investasi di saham

Labels: